Mengkritisi Pertemuan Annapolis

 

(Dari the New York Times 24 November 2007)

Isu Palestina sampai sekarang belum berakhir dengan win-win solution. Beberapa kali pertemuan diantara kelompok-kelompok yang bertikai pernah digagas, tapi hasilnya tetap ‘nihil’. Di masa akhir jabatannya sebagai President Amerika, kembali George Bush dengan pembantunya Condolence Rice mencoba kembali menggagas untuk mempertemukan pihak-pihak yang bertikai yang akan di dicoba dipertemukan kembali di Annapolis, ibukota Negara bagian Maryland di Amerika serikat minggu depan.

 

Saudi Arabia yang diharapkan bisa berperan membantu merealisasikan gagasan Bush ini, nampaknya masih ragu untuk mengirimkan utusannya siapa yang mesti di utus, dan bagaimana pertemuan itu akan memberikan solusi bagi perdamaian konflik Palestina-Israil. Walaupun pada akhirnya negara petro dolar itu menyetujui untuk mengirim sang Menteri Luar Negerinya. Keraguan ini cukup beralasan karena para pemimpin Arab ragu apakah Bush bisa menekan Israil untuk mau berkompromi dan juga ragu apakah Presiden Palestina Mahmood Abbas akan hadir dan bisa melepaskan tekanannya dari militant Hamas untu berkompromi dan mencari jalan keluar dengan utusan Israel.

 

 

Isrel sendiri telah menunjukkan dukungannya atas keinginan Abbas untuk berkompromi di Annapolis dengan membebaskan beberapa tawanan Palestina.

Permasalahannya sekarang, untuk bisa dianggap sebagai pertemuan yang menjanjikan, harus dipikirkan secara serius dan matang tentang langkah-langkah dan isu-isu utama yang akan diangkat pada pertemuan itu seperti: sejauh mana perbatasan Negara Palestina, bagaimana nasib para pengungsi, masa depan Jerussalem dan jaminan keamanan bagi tentara Israel-dan Palestina. Intinya, pertemuan itu harus bisa menghasilkan document cetak biru yang disetujui oleh kedua belah pihak dan timeframe yang pasti tentang masa-masa negoisasi sampai terwujudnya perdamaian.

Sebagai penggagas yang akan membuka pertemuan itu, President Bush harus sudah punya strategi dan kemauan politik untuk menyelesaikan ini paska pertemuan Annapolis di masa akhir jabatannya sebagai presiden yang tinggal 14 bulan lagi. Mungkinkah Bush mampu memainkan peranan dalam menyelesaikan konflik ini dengan pertemuan Annapolis yang digagasnya? Kita lihat ke depan, waktu yang akan menjawabnya. Usaha sudah dirancang, tinggal hasil yang ditunggu. Kurang bijak memang memvonis hasilnya tanpa menunggu proses yang dilalui. Meskipun terkadang kita ragu, pertemuan ini akan seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya. Nihil solusi….

Iklan

~ oleh halliva pada November 24, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: